Meneladani Muhammad
Oleh Prof Dr Komarudin Hidayat

Bagi umat Islam, sosok Muhammad lebih dilihat dan diposisikan sebagai seorang nabi, yang dalam setiap langkahnya senantiasa mendapatkan bimbingan wahyu dari Allah SWT. Karena itu, sosok Muhammad kemudian sering dipersepsikan sebagai manusia super (superhuman) .

Padahal, berdasar keterangan yang tercantum dalam teks-teks Alquran, Muhammad juga manusia. Meski demikian, Muhammad telah membuktikan diri sebagai tokoh ideal, yang menjadi suri teladan bagi umat Islam dan juga manusia pada umumnya.

Misi utama Muhammad diturunkan ke bumi tak lain untuk membangun peradaban dunia, yang secara mikro untuk menyempurnakan akhlak manusia itu sendiri (li utammima makarim al-ahkhlaq). Karena itu, menarik dikaji bahwa kecintaan dan kekaguman masyarakat kepada sosok Muhammad sesungguhnya tidak hanya tersekat pada umat Islam saja, melainkan juga meliputi para pemerhati dan tokoh sejarawan masyhur yang berasal dari lintas agama.

Figur Muhammad dipandang sebagai tokoh pembaru dan tokoh sejarah yang tidak tertandingi. Riwayat hidupnya sangat transparan dan terang benderang dalam panggung sejarah dunia, dari masa kelahiran hingga akhir embusan napasnya. Sehingga terbuka bagi siapa pun untuk mengkaji perjalanan hidup putra Abdullah itu.

Kehidupan Muhammad mudah ditelaah secara ilmiah historis. Karena itu, banyak kaum pemerhati Islam dari Barat atau kaum Orientalis (meminjam istilah Edward Said) sangat mengagumi peranan dan prestasi Muhammad sebagai tokoh sejarah dan tokoh pembangun peradaban yang sangat berpengaruh hingga saat ini.

Bayangkan, putra Siti Aminah itu terlahir di hamparan padang pasir, di mana daerah itu hampir dipastikan tidak membuat orang luar tertarik untuk menaklukkan atau berkunjung karena kegersangan dan keganasannya. Muhammad juga tumbuh besar sebagai yatim piatu. Tempaan hidup dan petunjuk Allah telah memberikan kekuatan kepada dirinya untuk mengubah dataran padang pasir itu menjadi pusat peradaban (the center of civilization) yang sangat mengagumkan.

Bagi komunitas muslim, kekuatan ini dipahami sebagai bagian dari intervensi Tuhan lewat Jibril yang ditugaskan untuk membimbing setiap jejak dan langkah Muhammad. Tapi bagi orang yang tidak percaya pewahyuan, mereka tetap mengagumi sosok Muhammad sebagai penggerak dan pencetus peradaban baru di tanah Arab, yang kemudian meluas hingga memberikan warna-warni peradaban dunia.

Di akhir hayatnya, Muhammad mewariskan himpunan kitab suci Alquran, Hadits, serta tradisi yang masih berkembang sampai sekarang dan dipelihara secara militan oleh umat Islam. Bahkan, konsep kehidupan masyarakat yang ideal berhasil dia rumuskan, yang termanifestasikan dalam kehidupan kota Madinah.

Pola sosial masyarakat Madinah itu sendiri sesungguhnya merupakan konsep politik-sosiologis sebagai masyarakat yang beradab. Kata Madinah sendiri berarti madani atau berkeadaban. Itu ditandai dengan tegaknya pranata hukum, penghargaan pada pluralitas, toleransi, demokrasi, dan kekuatan ilmu pengetahuan, yang pada abad keenam itu bahkan dapat dikategorikan terlalu maju dibanding belahan bumi yang lain.

Sampai sekarang, warisan-warisan agung itu terbukti sesuai dengan prinsip modernitas (sahih likulli zaman wa makan), baik dalam ilmu pengetahuan ekonomi maupun politik. Prinsip-prinsip kemanusiaan, demokrasi, HAM, dan ilmu pengetahuan, semuanya itu secara nilai sudah dikenalkan oleh Muhammad. Karena itu, bagi umat Islam, modernitas sama sekali tidak bertentangan dengan keyakinan agamanya. Kalau saja dunia Islam saat ini acapkali bersitegang secara vis to vis dengan masyarakat Barat, itu sebenarnya tidak terletak pada dimensi keilmuan dan nilai keagamaan yang dipegang, melainkan lebih disebabkan oleh ketidakadilan ekonomi dan politik.

Dengan demikian, sosok Muhammad tetap menjadi model pemimpin bagi umat Islam yang tidak tertandingi. Di antara sekian banyak tokoh sejarah, ketika kita semakin meneliti dan mengenal semakin dekat, biasanya kita akan menemukan titik-titik kelemahannya. Tetapi, ini tidak berlaku pada sosok Muhammad. Banyak orang yang semula membenci, setelah mereka mempelajari secara jujur sejarah Muhammad, akhirnya mereka mengakui keluhuran pribadinya, kehebebatan ajarannya yang sejalan dengan hati nurani dan nalar sehat.

Salah satu peristiwa sejarah yang sangat menarik direnungkan adalah saat Muhammad berada di puncak kemenangannya saat menaklukkan Makkah, beliau justru bersikap rendah hati, tidak sombong, mengajak bertasbih, bertahmid, dan beristighfar kepada Allah. Bahkan, setiap perlakuan kasar dan tidak senonoh yang diterima dari para musuhnya dengan mudah dimaafkan.

Artinya, Muhammad memimpin umatnya dengan nalar kritis, dengan hati yang tulus, cinta kasih, dan sikap pemaaf. Sikap inilah yang perlu direnungkan dan diteladani oleh para pemimpin hari ini. Yakni, pemimpin yang mendorong peradaban yang ditopang dengan akal kritis dan melahirkan ilmu pengetahuan, dengan hati yang tulus yang menyebarkan kasih sayang dan persahabatan. Karena itu, wajar jika Muhammad menjadi tokoh panutan yang dicintai, yang mampu menggerakkan umatnya, dan selalu memberikan inspirasi brilian.

Karena itu, umat Islam hendaknya benar-benar memahami karakter kepemimpinannya secara komprehensif. Memang, kita perlu sepantasnya memberikan apresiasi kepada komunitas muslim Indonesia yang memiliki tradisi peringatan kelahiran Muhammad secara meriah. Tetapi, penghormatan itu hendaknya lebih daripada sekadar seremoni dengan mengalunkan shalawat nabi, tapi juga mempelajari riwayat hidupnya lebih serius dan ilmiah, untuk meneladani model kepemimpinannya.

Jangan sampai kita lebih gemar menyanjung dan menjadikan model teladan tokoh lain, sementara kita sendiri justru tidak akrab dan tidak kenal dengan pemimpin sendiri. Untuk itu, marilah umat Islam sekalian meneladani figur Muhammad sebagai spirit untuk membangun bangsa lewat kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. (aku)
Prof Dr Komarudin Hidayat
Rektor UIN Syarif Hidayatullah